SEMARANG, Nwessurya.com – Menghadapi tantangan meningkatnya kasus kenakalan remaja dan perilaku menyimpang di kalangan pelajar, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Semarang meluncurkan program inovatif bernama SANAK BASSAMA (Sahabat Anak BAPAS Semarang). Program ini menjadi bukti nyata transformasi peran lembaga pemasyarakatan yang kini tidak hanya fokus pada pembinaan pasca-pelanggaran hukum, tetapi juga mengedepankan upaya preventif sejak dini.
Implementasi program terobosan ini pertama kali dilakukan melalui kegiatan edukasi di SMA Islam Al Azhar 14 Semarang pada Senin (13/04/2026). Kegiatan ini melibatkan tim Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Semarang, peserta magang, serta mendapatkan dukungan dari mitra eksternal seperti Jasa Raharja, yang memperkuat pendekatan kolaboratif lintas sektor dalam menangani isu kenakalan remaja.
Berbeda dengan sosialisasi konvensional yang cenderung satu arah, SANAK BASSAMA dirancang dengan pendekatan partisipatif dan humanis. Kegiatan dibuka dengan sesi ice breaking dan permainan edukatif yang berhasil mencairkan suasana serta mendorong partisipasi aktif dari seluruh siswa. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjembatani komunikasi antara narasumber dan peserta, sehingga materi yang disampaikan dapat diserap dengan lebih optimal.
Pada sesi inti, para siswa diberikan pemahaman menyeluruh mengenai kenakalan remaja, mulai dari pengertian dasar, bentuk-bentuk perilaku menyimpang yang sering terjadi, hingga batasan usia remaja berdasarkan standar global. Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai konsekuensi hukum yang mungkin dihadapi jika seorang anak terlibat dalam pelanggaran hukum, termasuk pengenalan sistem pemasyarakatan dan peran penting Bapas dalam proses pembimbingan serta pemulihan.
Materi disampaikan dengan gaya komunikatif dan disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari remaja, dipadukan dengan tayangan video edukatif yang menggambarkan realitas sosial yang dekat dengan lingkungan mereka. Hal ini membuat para siswa tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi juga mampu merenungkan dampak nyata dari setiap pilihan perilaku yang mereka buat.
Salah satu keunggulan utama program SANAK BASSAMA adalah pendekatan reflektif yang diwujudkan melalui kegiatan “Pohon Harapan”. Dalam sesi ini, para siswa diajak untuk menuliskan harapan pribadi, komitmen diri, serta cita-cita mereka sebagai generasi penerus bangsa. Aktivitas yang tampak sederhana ini memiliki makna mendalam, karena mampu membangkitkan kesadaran dari dalam diri siswa untuk menjauhi perilaku negatif dan berusaha membangun masa depan yang lebih baik.
Selain itu, kegiatan juga menyisipkan sesi bonding antara guru dan siswa yang memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk saling menyampaikan kesan, harapan, dan pesan secara terbuka. Momen ini berperan penting dalam mempererat hubungan emosional serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif, yang pada akhirnya berkontribusi signifikan dalam upaya pencegahan kenakalan remaja.
Antusiasme para peserta terlihat jelas sepanjang acara berlangsung. Siswa aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab, ikut serta dalam permainan edukatif dengan penuh semangat, hingga terlibat dalam diskusi yang konstruktif. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan inovatif yang menggabungkan edukasi hukum dengan metode interaktif dan reflektif mampu meningkatkan efektivitas dalam menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menghormati hukum.
Program SANAK BASSAMA juga mencerminkan perubahan paradigma dalam sistem pemasyarakatan Indonesia, dari yang sebelumnya bersifat reaktif menjadi lebih proaktif dan berorientasi pada pencegahan. Bapas kini tidak hanya hadir ketika seseorang telah terjerumus ke dalam masalah hukum, tetapi juga aktif masuk ke tengah masyarakat untuk memberikan pemahaman hukum dan mencegah terjadinya pelanggaran sejak awal.
Kepala Bapas Kelas I Semarang, Totok Budiyanto, A.Md.IP., S.H., menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen Bapas dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia berkualitas, khususnya di kalangan generasi muda. “Melalui edukasi yang tepat dan sesuai dengan konteks, kami berharap para pelajar dapat memiliki pemahaman yang kuat tentang hukum serta mampu mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program ini juga menjadi bentuk sinergi yang erat antara Bapas dengan berbagai pihak, baik institusi pendidikan maupun mitra eksternal, dalam menciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan. “Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memperluas jangkauan edukasi serta memperkuat dampak positif yang dapat kita hasilkan bersama,” tambahnya.
Ke depan, program SANAK BASSAMA diharapkan dapat terus dikembangkan dan diadopsi oleh berbagai sekolah lainnya di wilayah Semarang bahkan lebih luas. Dengan pendekatan yang adaptif, inovatif, dan mampu menyentuh aspek emosional peserta, program ini memiliki potensi besar untuk menjadi model nasional dalam upaya pencegahan kenakalan remaja berbasis pemasyarakatan.
Kegiatan berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh semangat kebersamaan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta serta menjadi langkah konkret dalam membangun generasi muda yang sadar hukum, memiliki karakter yang kuat, dan siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.





















