DPR RI Luruskan Arah Pemikiran Keliru Terkait Program MBG: Investasi Gizi adalah Fondasi Utama Pendidikan Berkualitas Demi Generasi Emas Indonesia

Jakarta, Newssurya.com – Polemik seputar program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menggelinding di ruang publik, memunculkan berbagai interpretasi dan perdebatan yang terkadang menjauh dari esensi program itu sendiri. Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, tampil dengan suara lantang untuk meluruskan arah pemikiran yang keliru, menegaskan bahwa investasi pada gizi anak bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan fondasi utama untuk mewujudkan generasi cerdas dan berdaya saing di masa depan.

Dalam refleksi mendalam yang disampaikannya di Jakarta, Jumat (27/02/2026), Azis Subekti mengkritisi narasi yang memposisikan program MBG dan anggaran pendidikan sebagai dua entitas yang saling berkompetisi. Ia mengecam pandangan yang seolah-olah mengharuskan negara untuk memilih antara anak yang kenyang dan anak yang cerdas, padahal keduanya adalah prasyarat yang saling menopang untuk mencapai tujuan pembangunan sumber daya manusia yang optimal.

“Cara pandang yang memisahkan program MBG dan pendidikan adalah kekeliruan fundamental yang dapat menggagalkan upaya kita untuk mencetak generasi emas Indonesia,” tegas Azis. “Kita tidak bisa mengharapkan anak-anak mampu menyerap ilmu dengan baik jika perut mereka keroncongan. Gizi yang cukup adalah bahan bakar utama bagi otak untuk berfungsi secara optimal,” imbuhnya dengan nada prihatin.

Menolak Narasi Keliru yang Mempertentangkan Kesejahteraan Anak

Azis menyoroti narasi yang berkembang di masyarakat yang cenderung menganggap program MBG sebagai ancaman bagi kualitas pendidikan. Ia menegaskan bahwa narasi ini sangat menyesatkan karena mengabaikan realitas bahwa pemenuhan kebutuhan dasar anak, termasuk gizi yang cukup, adalah hak asasi yang harus dijamin oleh negara.

“Tidak ada satu pun ahli pendidikan yang akan mengatakan bahwa anak yang kekurangan gizi bisa belajar dengan efektif. Membandingkan anggaran MBG dengan dana pendidikan secara sepihak adalah penyederhanaan masalah yang berpotensi mengorbankan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

Memahami Anggaran Pendidikan Secara Holistik dan Komprehensif

Azis juga mengkritik pandangan sempit sebagian pihak yang menganggap anggaran pendidikan hanya mencakup biaya pembangunan fisik, seperti ruang kelas dan fasilitas penunjang, serta biaya operasional, seperti gaji guru dan pengadaan buku. Ia menjelaskan bahwa pengertian anggaran pendidikan yang tepat adalah mencakup seluruh aspek yang mendukung proses belajar anak secara utuh, termasuk kesehatan, gizi, dan kesejahteraan mental.

“Negara tidak hanya berkewajiban menyediakan ruang kelas dan guru yang berkualitas, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak hadir di sekolah dalam kondisi yang sehat, kenyang, dan siap untuk menerima pelajaran,” tegas Azis. “Program MBG adalah bagian integral dari upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi mereka.”

 

Menegaskan Kesesuaian Konstitusional dan Logika Kebijakan

Azis juga mengingatkan bahwa alokasi anggaran untuk program MBG sepenuhnya sejalan dengan amanat konstitusi yang mewajibkan pemerintah mengalokasikan minimal 20% dari APBN untuk pendidikan. Ia menjelaskan bahwa seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan anggaran negara, porsi anggaran untuk sektor pendidikan juga harus meningkat, termasuk untuk program-program yang mendukung kesejahteraan anak, seperti MBG.

“Tidak ada yang salah dengan mengalokasikan sebagian anggaran pendidikan untuk program MBG, selama hal itu dilakukan dengan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang transparan, dan pengawasan yang ketat,” ujarnya. “Justru, jika kita mengabaikan kebutuhan gizi anak-anak, kita telah melanggar amanat konstitusi dan mengkhianati cita-cita luhur bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.”

 

Mengkritik Narasi Angka yang Menyesatkan dan Mengabaikan Konteks

Azis juga menanggapi narasi yang menggiring opini publik dengan menggunakan angka-angka besar yang seolah-olah menunjukkan adanya pemborosan anggaran atau pengalihan dana pendidikan secara besar-besaran. Ia menegaskan bahwa penggunaan angka-angka tersebut tanpa memberikan konteks yang memadai dapat menyesatkan masyarakat dan menciptakan persepsi yang keliru tentang program MBG.

“Anggaran negara bukanlah sekadar angka mati, tetapi harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu sebagai instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan,” kata Azis. “Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan angka-angka tersebut dan selalu berupaya untuk memberikan penjelasan yang komprehensif agar masyarakat dapat memahami persoalan ini secara utuh.”

 

Pendidikan dan Gizi: Dua Pilar Utama Masa Depan Bangsa

Azis menutup pernyataannya dengan kembali menegaskan bahwa pendidikan dan pemenuhan gizi anak adalah dua pilar utama yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun masa depan bangsa yang gemilang. Ia mengajak semua pihak untuk meninggalkan perdebatan yang kontraproduktif dan fokus pada upaya bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak-anak Indonesia.

“Mari kita jadikan program MBG sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi bagi perkembangan anak-anak kita. Bersama-sama, kita wujudkan generasi Indonesia yang cerdas, sehat, dan berdaya saing,” pungkas Azis dengan penuh semangat. “Investasi pada gizi anak adalah investasi yang akan menentukan masa depan bangsa ini. Tanpa gizi yang cukup, bangsa ini tidak akan mampu menciptakan generasi cerdas, produktif, dan mampu bersaing di tingkat global. Jadi, mari kita bersama-sama memastikan bahwa program-program seperti MBG tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi jangka panjang yang sangat penting untuk keberlangsungan dan kemajuan Indonesia.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Ping-balik: trimox