SEMARANG, Nwessurya.com – Langkah konkret dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika terus digalakkan melalui kegiatan sosialisasi pendidikan dan tes urine yang melibatkan seluruh aparatur pemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas I Semarang pada hari Kamis (02/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk menjaga integritas dan profesionalitas aparatur, sekaligus mendukung program nasional pemberantasan narkoba.
Kegiatan yang diadakan di kompleks Balai Pemasyarakatan Semarang menghadirkan pemateri dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah dan diikuti oleh berbagai unsur internal institusi, mulai dari pejabat struktural, pejabat fungsional, pegawai tetap, pegawai tidak tetap (PPNPN), hingga peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan serta mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang sedang melakukan studi lapangan.
Sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari narkoba, sebanyak 40 pegawai secara sukarela mengikuti tes urine yang dilaksanakan sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi penyalahgunaan zat terlarang. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan tahun ini yang mengedepankan nilai-nilai integritas, profesionalisme, dan kesehatan kesejahteraan aparatur.
Acara dimulai dengan suasana yang penuh kebanggaan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Pemasyarakatan, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh petugas agama untuk memohon kelancaran dan manfaat yang maksimal dari kegiatan ini. Dalam sambutannya, Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas I Semarang, Totok Budiyanto, menekankan bahwa kegiatan ini menjadi bagian yang sangat penting dalam menjaga marwah serta kredibilitas institusi pemasyarakatan.
“Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak hanya kita fokuskan pada pegawai dan aparatur, tetapi juga secara konsisten menyasar klien pemasyarakatan yang sedang menjalani proses pembinaan. Pelaksanaan tes urine hari ini adalah tahap awal yang akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan alat dan sumber daya, sehingga seluruh elemen di lingkungan Balai Pemasyarakatan dapat terlibat secara menyeluruh,” ujarnya.
Selain itu, Totok juga menyampaikan bahwa kerja sama yang erat dengan BNNP Jawa Tengah telah diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya adalah program rehabilitasi bagi klien pemasyarakatan yang memiliki masalah penyalahgunaan narkoba. Hingga saat ini, sebanyak 20 klien telah mengikuti program rehabilitasi berkelanjutan sebagai bagian dari proses pembinaan dan pemulihan agar dapat kembali berintegrasi dengan masyarakat dengan baik.
Dalam sesi sosialisasi yang sangat informatif, perwakilan BNNP Jawa Tengah, Reza Aditya, memberikan pemaparan mendalam mengenai berbagai aspek bahaya narkotika bagi kesehatan fisik dan psikologis manusia. Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh jenis narkoba diproduksi menggunakan bahan kimia berbahaya yang tidak hanya merusak fungsi organ tubuh seperti hati, ginjal, dan paru-paru, tetapi juga dapat mengganggu sistem saraf pusat sehingga menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen.
“Penggunaan narkotika tidak hanya merusak tubuh secara fisik, tetapi juga berdampak pada perubahan hormon yang berkaitan dengan sistem penghasil rasa bahagia di otak. Hal ini yang menyebabkan efek ketergantungan yang sangat sulit dihentikan tanpa bantuan medis dan dukungan psikologis yang tepat. Bahkan, penggunaan zat seperti ganja yang sering dianggap ‘ringan’ dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang serta mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, yang pada gilirannya dapat menyebabkan gangguan jiwa dan masalah kesehatan lainnya,” jelas Reza.
Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan langkah pencegahan sejak dini, khususnya bagi generasi muda yang menjadi target utama penyebaran narkoba. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan mengenali tanda-tanda penyalahgunaan narkoba, membangun lingkungan pergaulan yang positif dan sehat, serta memperkuat nilai-nilai moral dan spiritual sebagai benteng diri yang kokoh terhadap godaan narkoba.
Setelah sesi sosialisasi yang diakhiri dengan sesi tanya jawab dan dokumentasi bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan tes urine yang berlangsung di area Caffe Bassama yang telah disiapkan khusus untuk keperluan tersebut. Proses pemeriksaan dilakukan secara tertib dan teratur melalui beberapa tahapan, yaitu pendaftaran peserta, pembagian alat tes urine yang sudah disterilkan, proses pengambilan sampel urine di ruangan yang telah dibatasi aksesnya, hingga pencatatan riwayat konsumsi obat-obatan atau suplemen yang mungkin dimiliki oleh peserta untuk menghindari hasil tes yang salah.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan sangat lancar dan penuh kesadaran bersama akan pentingnya menjaga diri serta lingkungan kerja yang bersih dari pengaruh narkoba. Para peserta juga menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini, menyatakan bahwa sosialisasi yang diberikan sangat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman mengenai bahaya narkoba serta pentingnya menjaga kesehatan diri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan komitmen seluruh aparatur pemasyarakatan dalam menjaga integritas diri serta mendukung gerakan pemberantasan narkoba di Indonesia dapat terus terjaga dan semakin kuat. Selain itu, diharapkan juga dapat menjadi contoh bagi institusi lain untuk terus melakukan upaya preventif dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan bebas dari narkoba.














