Bakesbangpol Surabaya Dinilai “Alergi” dengan MADAS Sedarah, Ketua DPC M. Sahri Ungkap Kekecewaan dan Harapan Terbuka

Surabaya, Newssurya.com – Peristiwa yang terjadi di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya memicu kekecewaan mendalam dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Madura Asli Sedarah (MADAS) Surabaya. Meski telah melayangkan surat permohonan resmi dan menjadwalkan audiensi untuk menjalin komunikasi, diskusi tersebut urung terlaksana karena pimpinan Bakesbangpol sedang berhalangan hadir. Kejadian itu dinilai sebagai sinyal kurangnya keterbukaan dan komunikasi yang seharusnya terjalin antara pemerintah daerah dengan organisasi masyarakat yang sah.

Ketua DPC MADAS Surabaya, M. Sahri, yang memimpin langsung rombongan beserta Kasat Kornas H. Dofir, Sekretaris DPC Aris Afrisal, Sekretaris Daerah Muhammad Rifqi, dan jajaran pengurus lainnya, menyatakan bahwa kedatangan mereka bukan dalam rangka menciptakan masalah atau polemik, melainkan untuk membangun dialog yang sehat dan terbuka demi kemajuan bersama. “Kami datang dengan itikad baik, sudah mengirim surat resmi, dan berharap dapat melakukan klarifikasi serta silaturahmi. Sangat disayangkan jika kesempatan komunikasi ini tidak dimanfaatkan,” ujar M. Sahri dengan nada kecewa.

Lebih lanjut, M. Sahri menegaskan pentingnya audiensi tersebut sebagai wadah untuk menegaskan legalitas serta identitas organisasi MADAS secara resmi. Organisasi ini telah memperoleh pengesahan badan hukum AHU dari Kementerian Hukum dan HAM dan terdaftar secara resmi di Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Penegasan legalitas ini sangat krusial, terutama karena ada pihak-pihak tertentu yang diduga mencoba mencatut nama dan identitas MADAS asli untuk kegiatan yang berpotensi menimbulkan keresahan dan kegaduhan di wilayah Jawa Timur.

Dalam pernyataannya, Sekretaris DPC MADAS Surabaya, Aris Afrisal, mengungkapkan bahwa organisasinya berbeda secara mendasar dari kelompok lain yang kerap dikaitkan dengan aksi-aksi demonstrasi yang mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. “MADAS yang kami pimpin berkomitmen penuh pada stabilitas dan kondusivitas kota Surabaya. Kami mengedepankan pendidikan dan penguatan nilai persaudaraan serta harmoni sosial, jauh dari tindakan meresahkan masyarakat,” tegas Aris.

Para pengurus MADAS menyayangkan bahwa pencatutan nama yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab ini menyebabkan salah pengertian di masyarakat luas, bahkan berpotensi memengaruhi pandangan pemerintah terhadap MADAS versi sah dan resmi yang berintegritas. Karena itu, kehadiran mereka di Bakesbangpol sangat penting agar kesalahpahaman ini dapat diminimalisir dan transparansi mengenai keberadaan serta aktivitas organisasi dapat tersampaikan secara jernih.

Sampai saat ini, MADAS Surabaya tetap memegang teguh komitmen menjaga stabilitas sosial dan kedamaian di kota metropolitan ini. Organisasi ini menyampaikan harapan besar agar Pemerintah Kota Surabaya, khususnya Bakesbangpol, segera membuka ruang diskusi dan dialog yang konstruktif. Dengan demikian, hubungan sinergi antara pemerintahan dan masyarakat dapat terbangun dengan kokoh, berlandaskan prinsip-prinsip konstitusi dan semangat kebersamaan.

MADAS juga menekankan bahwa komunikasi merupakan kunci utama dalam menjaga harmonisasi antar elemen masyarakat dan menciptakan suasana kota yang aman, religius, dan sejahtera. Mereka hadir sebagai bagian dari solusi yang mendukung kemajuan dan keberlangsungan kehidupan sosial yang damai, bukan sebagai sumber masalah yang memperkeruh keadaan. Organisasi ini juga berpegang teguh pada prinsip demokrasi dan tanggung jawab sosial sehingga setiap langkah mereka selalu mengedepankan kepentingan masyarakat umum.

Pada akhirnya, jajaran pengurus dan anggota MADAS berharap agar pihak Bakesbangpol dan pejabat terkait tidak lagi mengabaikan atau menutup ruang komunikasi ini. Mereka menginginkan agar segera terwujud dialog yang efektif dan konstruktif demi menciptakan suasana harmonisasi yang kondusif. Dengan begitu, semua elemen masyarakat merasa dihargai, didengar, dan dipahami secara adil. Harapan ini menjadi pondasi penting untuk membangun kota Surabaya yang lebih inklusif, toleran, dan maju bersama dalam kebersamaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *