Ketika Wayang Menjadi Mimbar Dakwah Ki Sabdo Carito

Semarang, Newssurya.com — Di tangan sebagian orang, wayang adalah kesenian tradisional yang hidup di atas panggung. Namun bagi Raden Marsudi, wayang memiliki makna yang jauh lebih luas. Tokoh-tokoh pewayangan justru menjadi bagian dari perjalanan dakwahnya dalam menyampaikan pesan agama kepada masyarakat.

Di hadapan jamaah, pria yang dikenal dengan nama panggung Ki Sabdo Carito itu tidak sekadar berdiri menyampaikan ceramah. Ia dapat menghadirkan tokoh-tokoh wayang, iringan musik hingga humor yang membuat suasana pengajian terasa lebih cair.

Namun di balik hiburan tersebut, satu hal tetap menjadi tujuan utama: menyampaikan ilmu agama dan mengajak jamaah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Marsudi merupakan pensiunan Guru SD Negeri Pongangan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Puluhan tahun dirinya mengabdikan diri di dunia pendidikan sebelum akhirnya memasuki masa pensiun.

Setelah pensiun, waktunya justru semakin banyak diisi dengan kegiatan dakwah. Undangan datang silih berganti, mulai dari acara pernikahan, sunatan, haul, peringatan hari besar Islam, halalbihalal hingga berbagai kegiatan keagamaan masyarakat.

Yang membuat dakwah Marsudi berbeda adalah cara penyampaiannya. Ia memilih memadukan ceramah dengan budaya Jawa yang telah akrab dengan kehidupan masyarakat.

“Konsep dakwahnya, perpaduan ilmu, amal, dan budaya. Cuma memang tidak semua pengajian memakai wayang. Banyak juga yang ceramah sendirian tanpa pengiring,” ujar Marsudi.

Menurutnya, pesan agama terkadang lebih mudah diterima ketika disampaikan menggunakan bahasa budaya yang dekat dengan masyarakat.

Bagi Marsudi, penggunaan kesenian sebagai media dakwah juga bukan sesuatu yang sama sekali baru. Ia melihat wayang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah penyebaran nilai-nilai keagamaan di Jawa.

“Sekaligus nguri-uri budaya Jawa. Metode ini merupakan peninggalan para wali, tapi sayang mulai banyak ditinggalkan,” katanya.

Dari Pengajian Kampung hingga Melintasi Kota

Lahir di Semarang pada 26 Desember 1963, Marsudi mengaku tidak pernah membayangkan dirinya kelak dikenal sebagai seorang pendakwah.

Aktivitas tersebut tumbuh secara perlahan. Ia mula-mula sering diminta mengisi ceramah di lingkungan masyarakat Kelurahan Pakintelan.

Dari satu undangan ke undangan lainnya, kiprahnya semakin dikenal. Wilayah dakwahnya pun perlahan meluas, tidak hanya di Kota Semarang, tetapi juga hingga Ungaran, Salatiga, Demak, Kendal, Temanggung, Klaten dan sejumlah daerah lainnya.

Marsudi mulai aktif berdakwah sejak 2015. Dua tahun kemudian, pada 2017, ia mulai memasukkan wayang sebagai salah satu media dalam menyampaikan ceramah.

Gagasan tersebut lahir dari kebiasaannya menyaksikan berbagai ceramah keagamaan melalui YouTube sekaligus menikmati pertunjukan wayang kulit.

Dari dua dunia itulah ia kemudian mencoba meramu metode dakwah yang menurutnya lebih sesuai dengan karakter jamaah.

Ceramah dipadukan dengan wayang, musik dan humor. Hasilnya bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah ruang dakwah yang dibuat lebih komunikatif.

Puluhan Wayang Menjadi Media Dakwah

Bagi Marsudi, wayang bukan sekadar koleksi. Puluhan wayang yang dimilikinya memiliki fungsi masing-masing ketika digunakan dalam pengajian.

Sedikitnya terdapat empat jenis wayang yang biasa digunakan, yakni wayang klasik, wayang golek, wayang modern atau kontemporer, serta wayang pesantren.

Wayang pesantren menjadi salah satu koleksi yang secara khusus memiliki karakter dekat dengan dunia dakwah. Tokohnya antara lain kiai, santri, ustaz hingga karakter setan.

“Koleksi wayang saya jumlahnya puluhan. Semuanya saya gunakan untuk media berdakwah,” tuturnya.

Karakter-karakter tersebut kemudian disesuaikan dengan materi yang ingin disampaikan. Cerita tidak dibuat semata-mata untuk menghibur, tetapi diarahkan agar memiliki pesan moral dan keagamaan.

Menariknya, Marsudi juga tidak selalu terpaku pada materi yang sudah dipersiapkan. Kondisi jamaah di lapangan sering kali menjadi bagian dari proses kreatifnya.

Ia pernah mengalami kejadian unik ketika mengisi ceramah di Jimbaran dan Sumowono, Kabupaten Semarang. Di tengah jamaah ternyata terdapat seseorang yang memiliki nama persis seperti dirinya.

Situasi tersebut spontan dijadikan bahan guyonan. Jamaah tertawa, suasana menjadi lebih akrab, dan pemilik nama yang sama pun ikut menikmati candaan tersebut.

Bagi Marsudi, improvisasi merupakan bagian penting dalam berdakwah.

Bacaan Lainnya

Materi tetap harus dipersiapkan, tetapi cara menyampaikannya tidak selalu harus kaku. Pendakwah juga perlu membaca suasana agar pesan yang disampaikan dapat diterima jamaah.

Berdakwah Tanpa Mematok Tarif

Di balik aktivitas dakwahnya, Marsudi juga memiliki prinsip tersendiri mengenai imbalan.

Ia tidak menetapkan tarif khusus untuk ceramah yang disampaikannya.

“Pokoknya, seikhlasnya,” katanya.

Namun untuk penampilan yang melibatkan pemain musik maupun karakter Gareng, Petruk dan Bagong, terdapat kebutuhan biaya tersendiri sesuai kesepakatan dengan pihak pengundang.

Menurut Marsudi, biaya tersebut terutama berkaitan dengan kebutuhan para pengiring yang berasal dari daerah lain.

“Kalau pengundangnya tidak mampu, gratis. Cuma untuk pengiring, karena asalnya dari daerah lain, maka perlu biaya transport saja,” ujarnya.

Durasi penampilan juga menyesuaikan konsep acara. Ceramah tanpa pertunjukan biasanya berlangsung sekitar satu hingga satu setengah jam.

Sementara jika dipadukan dengan wayang, musik dan lawakan, pertunjukan dapat berlangsung hingga sekitar dua setengah jam.

Bagi Marsudi, persoalan utama bukan terletak pada panjang pendeknya acara. Yang lebih penting adalah jamaah pulang membawa pengetahuan dan pesan yang dapat diamalkan.

“Dengan mengaji, orang mendapatkan ilmu dan bisa lebih paham agama. Dengan begitu bisa tambah kuat imannya, dan bisa diamalkan,” katanya.

Ketika Budaya dan Dakwah Bertemu

Pengetahuan agama Marsudi diperoleh dari sejumlah guru, salah satunya Kiai Muhammad Arif asal Temanggung.

Sementara kemampuan memainkan serta mengembangkan wayang sebagai media dakwah dipelajarinya secara otodidak.

Ia terus bereksperimen agar wayang tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan menjadi sarana menyampaikan nilai kehidupan.

Marsudi menyadari kesenian tradisional menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman. Generasi muda semakin akrab dengan berbagai bentuk hiburan baru, sementara kesenian tradisional harus mencari cara agar tetap relevan.

Karena itu, ia mencoba mempertemukan budaya Jawa dengan pesan keagamaan.

“Jadi metode ceramah ini lebih mudah dipahami, sekaligus nguri-uri budaya Jawa, yang saat ini mulai dilupakan generasi milenial,” ujarnya.

Di luar aktivitas dakwah, Marsudi juga masih aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ia tercatat sebagai Ketua Takmir Masjid Irsyadul Jami, Ketua RW 3 Kelurahan Pakintelan serta Dewan Pengawas Lembaga Bantuan Hukum Rumah Pejuang Keadilan Indonesia.

Atas kiprahnya, Marsudi juga pernah memperoleh sejumlah kenang-kenangan, antara lain piandel Kanjeng Sunan Giri atau Raden Ainul Yaqin, Keris Sumpono Carito serta Wayang Semar Bodronoyo.

Benda-benda tersebut hingga kini masih dirawat.

Perjalanan Marsudi memperlihatkan bagaimana seseorang dapat membawa pengalaman dari ruang kelas ke ruang pengajian. Setelah bertahun-tahun menjadi guru, ia kini memilih melanjutkan pengabdiannya melalui jalur dakwah.

Di tangannya, wayang tidak sekadar menjadi cerita tentang tokoh-tokoh masa lalu.

Wayang menjadi jembatan untuk berbicara tentang ilmu, iman, amal dan kehidupan, dengan bahasa budaya yang telah lama hidup dan dikenal masyarakat Jawa.

Sebuah cara lama yang ia coba hadirkan kembali dengan kemasan yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.

Zen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *