Lapas Plantungan Sulap Lahan Terbatas Jadi Sentra Budidaya Talas Kimpul, Warga Binaan Dibekali Keterampilan Produktif

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"border":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

KENDAL, Nwessurya.com – Lapas Pemuda Plantungan terus menunjukkan inovasi dalam program pembinaan warga binaan dengan menghadirkan kegiatan produktif berbasis pertanian. Terbaru, lembaga pemasyarakatan ini mengembangkan budidaya talas kimpul dengan memanfaatkan lahan terbatas di area kompleks lapas, yang dilaksanakan secara resmi pada Sabtu (18/04/2026).

Program budidaya ini menjadi bagian penting dari upaya pembinaan kemandirian yang melibatkan keterlibatan langsung warga binaan. Mereka terlibat dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pengolahan tanah, penanaman bibit, hingga proses pemeliharaan dan perawatan tanaman secara rutin. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis di bidang pertanian, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter positif seperti disiplin, kerja keras, serta rasa tanggung jawab pada setiap peserta.

Dalam pelaksanaannya, Lapas Plantungan bekerja sama dengan Komunitas Lereng Prau sebagai mitra pendamping teknis. Komunitas ini memberikan pelatihan terkait teknik budidaya talas kimpul yang tepat serta berbagi pengalaman dalam pengelolaan pertanian berbasis masyarakat. Pendampingan berkelanjutan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga memastikan keberlanjutan program pembinaan di masa mendatang.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kendal Komisi B, Sukron. Ia menilai bahwa pemanfaatan lahan di dalam lapas untuk kegiatan produktif merupakan langkah strategis dalam menciptakan pembinaan yang lebih bermakna dan memberikan manfaat jangka panjang.

“Talas kimpul merupakan komoditas yang memiliki potensi ekonomi cukup besar dan relatif mudah untuk dikembangkan. Dengan menguasai keterampilan budidayanya, ini bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi warga binaan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat,” ujar Sukron.

Pemilihan talas kimpul sebagai komoditas utama tidak tanpa alasan. Tanaman ini memiliki berbagai keunggulan, di antaranya mudah beradaptasi dengan kondisi lahan, memiliki nilai gizi yang baik, serta peluang pasar yang terus terbuka lebar. Selain itu, talas kimpul dapat diolah menjadi berbagai produk pangan olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan kemandirian ekonomi bagi para pelaku usaha.

Kepala Lapas Pemuda Plantungan, Suharno, menegaskan bahwa program budidaya talas kimpul ini merupakan bagian dari strategi pembinaan yang berorientasi pada pemberdayaan. Ia menekankan bahwa warga binaan perlu diberikan keterampilan nyata yang dapat mereka manfaatkan agar mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.

“Kami ingin pembinaan yang kami lakukan di dalam lapas tidak hanya sebatas menjalani masa pidana, tetapi lebih dari itu menjadi kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan lebih baik. Keterampilan yang diperoleh di sini diharapkan bisa menjadi dasar bagi mereka untuk membangun kehidupan baru,” kata Suharno.

Lebih dari sekadar aktivitas pertanian, budidaya talas kimpul ini menjadi simbol perubahan paradigma dalam pembinaan di lingkungan lapas. Sinergi yang terjalin antara pihak lapas, komunitas masyarakat, dan pemangku kebijakan menjadi kekuatan utama dalam menciptakan program pembinaan yang tidak hanya humanis, tetapi juga produktif dan memberikan manfaat nyata.

Melalui langkah inovatif ini, Lapas Pemuda Plantungan menunjukkan bahwa keterbatasan kondisi dan ruang bukanlah halangan untuk berkembang. Dari lahan yang sempit, tumbuh harapan besar bagi para warga binaan untuk bangkit kembali, menjadi individu yang mandiri, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat setelah kembali ke lingkungan mereka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *