Tanpa Iuran Warga, RT 001, Rw 010, Dusun Rowosari Sambut 1 Suro dengan Kenduri Penuh Kebersamaan

KENDAL, Newssurya.com – Peringatan 1 Suro 2026 atau 1 Muharam 1448 Hijriah di lingkungan RT 001 RW 010 Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan pada Senin (15/06/2026) malam. Bertempat di halaman Pos Ronda setempat, warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Griya Rafada I The View menggelar rangkaian kegiatan berupa pengajian, doa bersama, serta kenduri sebagai ungkapan syukur menyambut tahun baru Hijriah.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan menjadi bukti kuatnya budaya gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat. Seluruh sajian yang disajikan berasal dari swadaya masing-masing warga tanpa adanya pungutan atau kewajiban iuran apapun, menunjukkan semangat berbagi yang mendalam.

Beragam hidangan khas meriahkan meja-meja yang telah disiapkan panitia. Bubur suro sebagai sajian utama yang identik dengan tradisi bulan Muharam menjadi daya tarik utama, disertai aneka jajanan pasar seperti klepon, nagasari, kue lapis, apem, dan lemper. Warga juga membawa hidangan sehat berupa rebusan singkong, ubi, kacang tanah, serta jagung bakar. Tak ketinggalan berbagai jenis buah-buahan, kue kering, kue basah, hingga makanan rumahan lainnya yang disiapkan dengan penuh keikhlasan.

Ketua Panitia, Rahmat Arifin Akbar, menyampaikan bahwa konsep acara tanpa iuran lahir dari semangat kebersamaan warga yang ingin merayakan Tahun Baru Islam dengan cara sederhana namun penuh makna.

“Alhamdulillah, tidak ada iuran khusus untuk konsumsi. Setiap warga datang membawa makanan dari rumah sesuai kemampuan dan keinginan masing-masing. Justru dari kesederhanaan ini, nilai kebersamaan dan rasa memiliki terhadap lingkungan menjadi lebih terasa,” katanya.

Menurutnya, selain sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, tradisi berbagi makanan juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antartetangga yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Rangkaian acara diawali dengan pengajian siraman rohani yang disampaikan oleh tokoh Nahdlatul Ulama Pakintelan sekaligus Ketua Jamaah Langgeng Samudera, Kyai Raden Marsudi. Sebagai murid dari Kyai Muhammad Arif dari Temanggung, penceramah ini mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas ibadah serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tahun baru Hijriah hendaknya menjadi momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik. Meneladani Nabi Muhammad SAW bukan hanya dalam hal ibadah semata, tetapi juga dalam menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan senantiasa menebarkan kasih sayang kepada sesama,” ujar Kyai Raden Marsudi dalam tausiyahnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya merawat keberagaman yang ada di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan harus menjadi perekat dalam membangun kehidupan yang harmonis dan damai.

“Jangan mudah memperbesar perbedaan yang ada di antara kita. Yang harus kita perbesar adalah rasa saling menghargai satu sama lain. Keharmonisan lingkungan bermasyarakat tidak lepas dari keluarga yang rukun, saling memahami, dan saling menguatkan,” tuturnya.

Pembina Paguyuban Warga Griya Rafada I The View, S. Sutriyono, mengaku sangat bersyukur melihat antusiasme masyarakat yang tetap tinggi dalam menjaga tradisi positif tersebut.

“Yang paling membahagiakan bukanlah banyaknya hidangan yang tersaji, tetapi semangat warga untuk berbagi tanpa ada paksaan atau beban apapun. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai gotong royong masih sangat hidup dan terjaga di tengah masyarakat kita,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua RT 001 RW 010 Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Dr. (Hc). Joko Susanto, menyebutkan bahwa peringatan 1 Suro tidak hanya menjadi momen pergantian tahun, tetapi juga ruang untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus mempertebal nilai spiritual di kalangan warga.

“Kita berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Selain meningkatkan keimanan melalui pengajian dan doa bersama, acara ini juga memperkuat tali silaturahmi. Masyarakat berkumpul, saling mengenal lebih dekat, dan berbagi kebahagiaan tanpa memandang perbedaan apa pun,” katanya.

Usai doa bersama yang dipimpin oleh Ustad Zaenuri, seluruh warga menikmati hidangan yang telah dibawa masing-masing dengan suasana akrab dan penuh keceriaan. Anak-anak, orang tua, hingga para lansia tampak berbaur satu sama lain, membuat malam 1 Suro menjadi lebih dari sekadar pergantian penanggalan – melainkan perayaan tentang rasa syukur, persaudaraan, dan kekuatan gotong royong yang tetap kokoh di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *