Jakarta, Newsurya.com, 16 Juni 2026 — Connie Rahakundini Bakrie menyampaikan bahwa kondisi Indonesia saat ini menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan pemikiran matang. Sehingga, menurutnya Presiden Prabowo Subianto tidak hanya harus bergantung pada lingkaran sempit di sekitarnya, tetapi “seharusnya membuka ruang lebih luas untuk menerima masukan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan tokoh-tokoh senior yang berpengalaman dalam pemerintahan”.
Pernyataan tersebut disampaikan Connie ketika membahas arah pemerintahan Prabowo beberapa bulan setelah menjabat sebagai presiden, dalam kanal YouTube Refly Harun Podcast pada Sabtu (13/6/2026). Connie secara terbuka menyinggung posisi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, yang menurutnya terlalu dominan dalam lingkaran kekuasaan presiden.
“Yang pak Prabowo mesti dengar sekarang coba suruh Teddy libur dulu, kemana gak tau saya, ke kutub kek, ke Afrika, kema gua gak ngerti lah, suruh dia ngapain, jangan ada dulu Teddy,” ujar Connie.
Menurut dia, presiden perlu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan orang-orang yang telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola negara. “Dia duduk dengan semua orang-orang terdekat dia yang betul-betul sudah punya asam garam, yang matang-matang,” ujarnya.
Connie kemudian menyebut beberapa tokoh yang menurutnya layak didengar oleh presiden. “Dengarkan pak Dasio, dengarkan pak Sujafrie, dengarkanlah semua orang; gak cuma pak Dasco sama pak Jafrie ya, tapi dengarkan semua orang-orang ini termasuk dengarkan akademisi,” jelas Connie.
Ia menilai saat ini muncul persepsi di tengah-tengah masyarakat bahwa akses terhadap presiden semakin terbatas. Bahkan menurut Connie, berkembang pandangan di media sosial yang menilai sosok Teddy memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pemerintahan.
“Semua akses ke beliau ditutup, maksud dalam kata untuk (presiden Prabowo), jadi the real president tuh adalah Teddy. ‘Bukan saya nyimpulin nih’, kalau saya baca sosial media kan udah kayak begitu,” ujarnya.
Lebih jauh, Connie menilai presiden perlu kembali mengedepankan proses diskusi dan kajian dalam setiap pengambilan keputusan strategis. Ia mengkritik pandangan yang menganggap kekuatan negara hanya ditentukan oleh militer dan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
“Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa lahir dari gagasan dan pemikiran yang kuat, bukan semata dari kekuatan fisik. Karena itu, pengharapan terhadap presiden dapat lebih banyak menyerap pandangan dari berbagai elemen masyarakat, sebelum menentukan arah kebijakan negara,” pungkasnya.
